Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Friday, October 29, 2010

STUDI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MODERN


STUDI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MODERN

Selengkapnya Download DISINI

PENDAHULAN
Pendidikan Islam bukan sekedar "transfer of knowledge" ataupun "transfer of training", tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan; suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan. Pendidikan Islam suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Dari pengertian di atas, pendidikan merupakan sistem untuk meningkatka kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang. Dengan demikian, "pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradis mereka sendiri tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia"
Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan selalu berkembang, dan selalu dihadapkan pada perubahan zaman. Untuk itu, mau tak mau pendidikan harus didisain mengikuti irama perubahan tersebut, apabila pendidikan tidak didisain mengikuti irama perubahan, maka pendidikan akan ketinggalan dengan lajunya perkembangan zaman itu sendiri. Pendidikan Islam sekarang ini dihadapkan pada tantangan kehidupan manusia modern. Dengan demikian, pendidikan Islam harus diarahkan pada kebutuhan perubahan masyarakat modern. Dalam menghadapi suatu perubahan, "diperlukan suatu disain paradigma baru di dalam menghadapi tuntutan-tuntutan yang baru. Untuk itu, pendidikan Islam perlu didisain untuk menjawab tantangan prubahan zaman tersebut, baik pada sisi konsepnya, kurikulum, kualitas sumberdaya insaninya, lembaga-lembaga dan organisasinya, serta mengkonstruksinya agar dapat relevan dengan perubahan masyarakat tersebut.

A.     Karakteristik Masyarakat Modern
Secara umum masyakarat modern adalah masyarakat yang proaktif, individual, dan kompetitif. Masyarakat modern dewasa ini yang ditandai dengan munculnya pasca industri [postindustrial society]. Dalam bidang revolusi informasi, sebagaimana dikemukakan Donald Michael, juga terjadi ironi besara. Semakin banyak informasi dan semakin banyak pengetahuan mestinya makin besara kemampuan melakukan pengendalian umum. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, semakin banyak informasi telah menyebabkan semakin disadari bahwa segala sesuatunya tidak terkendali. Karena itu dengan ekstrim Ziauddin Sardar [1988], menyatakan bahwa abad informasi ternyata sama sekali bukan rahmat. Di masyarakat Barat, ia telah menimbulkan sejumlah besar persoalan, yang tidak ada pemecahannya kecuali cara pemecahan yang tumpul. Di lingkungan masyarakat kita sendiri misalnya, telah terjadi swastanisasi televisi, masyarakat mulai merasakan ekses negatifnya (Malik Fajar, 1995 : 3).
Dampak dari semua kemajuan masyarakat modern, kini dirasakan demikian fundamental sifatnya. Ini dapat ditemui dari beberapa konsep yang diajukan oleh kalangan agamawan, ahli filsafat dan ilmuan sosial untuk menjelaskan persoalan yang dialami oleh masyarakat. Misalnya, konsep keterasingan (alienation) dari Marx dan Erich Fromm, dan konsep anomie dari Durkheim. Baik alienation maupun anomie mengacu kepada suatu keadaan dimana manusia secara personal sudah kehilangan keseimbangan diri dan ketidakberdayaan eksistensial akibat dari benturan struktural yang diciptakan sendiri. Dalam keadaan seperti ini, manusia tidak lagi merasakan dirinya sebagai pembawa aktif dari kekuatan dan kekayaannya, tetapi sebagai benda yang dimiskinkan, tergantung kepada kekuatan di luar dirinya, kepada siapa ia telah memproyeksikan substansi hayati dirinya.
Semua persoalan fundamental yang dihadapi oleh masyarakat modern yang digambarkan di atas, "menjadi pemicu munculnya kesadaran epistemologis baru bahwa persoalan kemanusian tidak cukup diselesaikan dengan cara empirik rasional, tetapi perlu jawaban yang bersifat transendental". Melihat persoala ini, maka ada peluang bagi pendidikan Islam yang memiliki kandungan spritual keagamaan untuk menjawab tantangan perubahan tersebut.
Mencermati fenomena peradaban modern yang dikemukakan di atas, harus bersikap arif dalam merespons fenomena-fenomena tersebut. Dalam arti, jangan melihat peradaban modern dari sisi unsur negatifnya saja, tetapi perlu juga merespons unsurunsur posetifnya yang banyak memberikan manfaat dan mempengaruhi kehidupan manusia. Maka, yang perlu diatur adalah produk peradaban modern jangan sampai memperbudah manusia atau manusia menghambakan produk tersebut, tetapi manusia harus menjadi tuan, mengatur, dan memanfaatkan produk perabadaban modern tersebut secara maksimal.

B.     Pendidikan Tradisional dan Modern
Pendidikan tradisional (konsep lama) sangat menekankan pentingnya penguasaan bahan pelajaran. Menurut konsep ini rasio ingatanlah yang memegang peranan penting dalam proses belajar di sekolah. Pendidikan tradisional telah menjadi sistem yang dominan di tingkat pendidikan dasar dan menengah sejak paruh kedua abak ke-19, dan mewakili puncak pencarian elektik atas 'satu sistem terbaik'. Ciri utama pendidikan tradisional termasuk : (1) anak-anak biasanya dikirim ke sekolah di dalam wilayah geografis distrik tertentu, (2) mereka kemudian dimasukkan ke kelas-kelas yang biasanya dibeda-bedakan berdasarkan umur, (3) anak-anak masuk sekolah di tiap tingkat menurut berapa usia mereka pada waktu itu, (4) mereka naik kelas setiap habis satu tahun ajaran, (5) prinsip sekolah otoritarian, anak-anak diharap menyesuaikan diri dengan tolok ukur perilaku yang sudah ada, (6) guru memikul tanggung jawab pengajaran, berpegang pada kurikulum yang sudah ditetapkan, (7) sebagian besar pelajaran diarahkan oleh guru dan berorientasi pada teks, (8) promosi tergantung pada penilaian guru, (9) kurikulum berpusat pada subjek pendidik, (10) bahan ajar yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks.
Lebih lanjut menurut Vernon Smith, pendidikan tradisional didasarkan pada beberapa asumsi yang umumnya diterima orang meski tidak disertai bukti keandalan atau kesahihan. Umpamanya: 1). ada suatu kumpulan pengetahuan dan keterampilan penting tertentu yang musti dipelajari anak-anak; 2). tempat terbaik bagi sebagian besar anak untuk mempelajari unsur-unsur ini adalah sekolah formal, dan 3). cara terbaik supaya anak-anak bisa belajar adalah mengelompokkan mereka dalam kelas-kelas yang ditetapkan berdasarkan usia mereka
pendidikan Islam yang lain masih menganut sistem lama, kurikulum ditetapkan merupakan paket yang harus diselesaikan, kurikulum dibuat tanpa atau sedikit sekali memperhatikan konteks atau relevansi dengan kondisi sosial masyarakat bahkan sedikit sekali memperhatika dan mengantisipasi perubahan zaman, sistem pembelajaran berorientasi atau berpusat pada guru. Paradigma pendidikan tradisional bukan merupakan sesuatu yang salah atau kurang baik, tetapi model pendidikan yang berkembang dan sesuai dengan zamannya, yang tentu juga memiliki kelebihan dan kelemahan dalam memberdayakan manusia, apabila dipandang dari era modern ini.
Konsep pendidikan modern (konsep baru), yaitu ; pendidikan menyentuh setiap aspek kehidupan peserta didik, pendidikan merupakan proses belajar yang terus menerus, pendidikan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan pengalaman, baik di dalam maupun di luar situasi sekolah, pendidikan dipersyarati oleh kemampuan dan minat peserta didik, juga tepat tidaknya situasi belajar dan efektif tidaknya cara mengajar.
Pendidikan pada masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak ke arah modern (modernizing), seperti masyarakat Indonesia, pada dasarnya berfungsi memberikan kaitan antara anak didik dengan lingkungan sosial kulturalnya yang terus berubah dengan cepat. Shipman (1972 : 33-35) yang dikutip Azyumardi Azra bahwa, fungsi pokok pendidikan dalam masyarakat modern yang tengah membangun terdiri dari tiga bagian :
(1)   sosialisasi, (2) pembelajaran (schooling), dan (3) pendidikan (education). Pertama, sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan adalah wahana bagi integrasi anak didik ke dalam nilai-nilai kelompok atau nasional yang dominan. Kedua, pembelajaran (schooling) mempersiapkan mereka untuk mencapai dan menduduki posisi sosialekonomi tertentu dan, karena itu, pembelajaran harus dapat membekalai peserta didik dengan kualifikasi-kualifikasi pekerjaan dan profesi yang akan membuat mereka mampu memainkan peran sosial-ekonomis dalam masyarakat. Ketiga, pendidikan merupakan "education" untuk menciptakan kelompok elit yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar bagi kelanjutan program pembangunan" (Azyumardi Azra, dalam Marwan Saridjo, 1996: 3)

C.     Pendidikan Islami yang Bagaimana?
Dalam menghadapi peradaban modern, yang perlu diselesaikan adalah persoalan persoalan umum internal pendidikan Islam yaitu (1) persoalan dikotomik, (2) tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, (3) persoalan kurikulum atau materi. Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu dengan lainnya. Pertama, Persolan dikotomik pendidikan Islam, yang merupakan persoalan lama yang belum terselesaikan sampai sekarang. Pendidikan Islam harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama. Karena, dalam pandangan seorang Muslim, ilmu pengetahuan adalah satu yaitu yang berasal dari Allah SWT . Kedua, perlu pemikiran kembali tujuan dan fungsi lembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada. Memang diakui bahwa penyesuaian lembaga-lembaga pendidikan akhir-akhir ini cukup mengemberikan, artinya lembaga-lembaga pendidikan memenuhi keinginan untuk menjadikan lembaga-lembaga tersebut sebagai tempat untuk mempelajari ilmu umum dan ilmu agama serta keterampilan.  Ketiga, persoalan kurikulum atau materi Pendidikan Islam, meteri pendidikan Islam "terlalu dominasi masalah-maslah yang bersifat normatif, ritual dan eskatologis. Materi disampaikan dengan semangat ortodoksi kegamaan, suatu cara dimana peserta didik dipaksa tunduk pada suatu "meta narasi" yang ada, tanpa diberi peluang untuk melakukan telaah secara kritis. Pendidikan Islam tidak fungsional dalam kehidupan sehari-hari, kecuali hanya sedikit aktivitas verbal dan formal untuk menghabiskan materi atau kurikulum yang telah diprogramkan dengan batas waktu yang telah ditentukan (A.Malik Fajar, 1995 :
Mencermati persoalan yang dikemukakan di atas, maka perlu menyelesaikan persoalan internal yang dihadapi pendidikan Islam secara mendasar dan tuntas. Sebab pendidikan sekarang ini juga dihadapkan pada persoalan-persoalan yang cukup kompleks, yakni bagaimana pendidikan mampu mempersiapkan manusia yang berkualitas, bermoral tinggi dalam menghadapi perubahan masyarakat yang begitu cepat, sehingga produk pendidikan Islam tidak hanya melayani dunia modern, tetapi mempunyai pasar baru atau mampu bersaing secara kompettif dan proaktif dalam dunia masyarakat modern. Pertanyaannya, disain pendidikan Islami yang bagaimana? Yang mampu menjawab tantangan perubahan ini, antara lain: Pertama, lembaga-lembagam pendidikan Islam perlu mendisain ulang fungsi pendidikannya, dengan memilih apakah (1) model pendidikan yang mengkhususkan diri pada pendidikan keagamaan saja untuk mempersiapkan dan melahirkan ulama-ulama dan mujtahid-mujtahid tangguh dalam bidangnya dan mampu menjawab persoalan-persoalan aktual atau kontemporer sesuai dengan perubahan zaman, (2) model pendidikan umum Islami, kurikulumnya integratif antara materi-materi pendidikan umum dan agama, untuk mempersiapkan intelektual Islam yang berfikir secara komprehensif, (3) model pendidikan sekuler modern dan mengisinya dengan konsep-konsep Islam, (4) atau menolak produk pendidikan barat, berarti harus mendisain model pendidikan yang betul-betul sesuai dengan konsep dasar Islam dan sesuai dengan lingkungan sosial-budaya Indonesia, (5) pendidikan agama tidak dilaksanakan di sekolah-sekolah tetapi dilaksanakan di luar sekolah, artinya pendidikan agama dilaksanakan di rumah atau lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat berupa kursur-kursus, dan sebagainya. Kedua disain "pendidikan harus diarahkan pada dua dimensi, yakni : (1) dimensi dialektika (horisontal), pendidikan hendaknya dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam atau lingkungan sosialnya. Manusia harus mampu mengatasi tantangan dan kendala dunia sekitarnya melalui pengembangan Iptek, dan (2) dimensi ketunduhan vertikal, pendidikan selain menjadi alat untuk memantapkan, memelihara sumber daya alami, juga menjembatani dalam memahamai fenomena dan misteri kehidupan yang abadi dengan maha pencipta. Berati pendidikan harus disertai dengan pendekatan hati (M.Irsyad Sudiro, 1995 : 2). Ketiga, sepuluh paradigma yang ditawarkan oleh Prof. Djohar, dapat digunakan untuk membangun paradiga baru pendidikan Islam, sebagai berikut : Satu, pendidikan adalah proses pembebasan. Dua, pendidikan sebagai proses pencerdasan. Tiga, pendidikan menjunjung tinggi hak-hak anak. Empat, pendidikan menghasilkan tindakan perdamaian. Lima, pendidikan adalah proses pemberdayaan potensi manusia. Enam, pendidikan menjadikan anak berwawasan integratif. Tujuh, pendidikan wahana membangun watak persatuan. Delapan, pendidikan menghasilkan manusia demokratik. Sembilan, pendidikan menghasilkan manusia yang peduli terhadap lingkungan. Sepuluh, sekolah bukan satusatunya instrumen pendidikan (Djohar, 1999 : 12). Tiga hal yang dikemukakan di atas merupakan tawaran desain pendidikan Islam yang perlu diupayakan untuk membangun paradigma pendidikan Islam dalam menghadapi perkembangan perubahan zaman modern dan memasuki era milenium ketiga. Karena, "kecenderungan perkembangan semacam dalam mengantisipasi perubahan zaman merupakan hal yang wajar-wajar saja. Sebab kondisi masyarakat sekarang ini lebih bersifat praktis-pragmatis dalam hal aspirasi dan harapan terhadap pendidikan" (S.R.Parker, 1990), sehingga tidak statis atau hanya berjalan di tempat dalam menatap persoalan-persoalan yang dihadapi pada era masyarakat modern dan post masyarakat modern. Untuk itu, Pendidikan dalam masyarakat modern, pada dasarnya berfungsi untuk memberikan kaitan antara anak didik dengan lingkungan sosiokulturalnya yang terus berubah dengan cepat, dan pada saat yang sama, pendidikan secara sadar juga digunakan sebagai instrumen untuk perubahan dalam sistem politik, ekonomi secara keseluruhan. Pendidikan sekarang ini seperti dikatakan oleh Ace Suryadi dan H.A.R. Tilar (1993), tidak lagi dipandang sebagai bentuk perubahan kebutuhan yang bersifat konsumtif dalam pengertian pemuasan secara langsung atas kebutuhan dan keinginan yang bersifat sementara. Tapi, merupakan suatu bentuk investasi sumber daya manusia (human investment) yang merupakan tujuan utama ; pertama, pendidikan dapat membantu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan untuk bekerja lebih produktif sehingga dapat meningkatkan penghasilan kerja lulusan pendidikan di masa mendatang. Kedua, pendidikan diharapkan memberikan pengaruh terhadap pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan (equality of education opportunity) (A.Malik Fadjar, 1995 : 1). Selain itu dalam menghadapi era milenium ketiga ini nampaknya pendidikan Islam harus menyiapkan sumber daya manusia yang lebih handal yang memiliki kompotensi untuk hidup bersama dalam era global. Menurut Djamaluddin Ancok (1998 : 5), "salah satu pergeseran paradigma adalah paradigma di dalam melihat apakah kondisi kehidupan di masa depan relatif stabil dan bisa diramalkan (predictability). Pada milenium kedua orang selalu berpikir bahwa segala sesuatu bersifat stabil dan bisa diprediksi. Tetapi, pada milenium ketiga semakin sulit untuk melihat adanya stabilitas tersebut. Apa yang terjadi di depan semakin sulit untuk diprediksi karena perubahan menjadi tidak terpolakan dan tidak lagi bersifat linier". Maka, pendidikan Islam sekarang ini disainnya tidak lagi bersifat linier tetapi harus didisan bersifat lateral dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat dan tidak terpolakan. Untuk itu, lebih lanjut Djamaluddin Ancok yang mengutip Hartanto : 1997: Hartanto, Raka & Hendroyuwono, 1998, mengatakan bahwa pendidikan (termasuk pendidikan Islam) harus mempersiapkan ada empat kapital yang diperlukan untuk memasuki milenium ketiga, yakni kapital intelektual, kapital sosial, kapital lembut, dan kapital spritual. Tantangan ini tidak muda untuk penyelesaiannya, tidak seperti membalik telapak tangan. Untuk itu, pendidikan Islam sangat perlu mengadakan perubahan atau mendesain ulang konsep, kurikulum dan materi, fungsi dan tujuan lembaga-lembaga, proses, agar dapat meneuhi tuntatan perubahan yang semakin cepat.

PENUTUP
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa : (1) Dalam menghadapi perubahan masyarakat modern, secara internal pendidikan Islam harus menyelesaikan
persoalan dikotomi, tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, dan persolalan kurikulum atau materi yang sampai sekarang ini belum terselesaikan. (2) Lembagalembaga pendidikan Islam perlu mendisain ulang fungsi pendidikan, dengan memilih model pendidikan yang relevan dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat. (3) Pendidikan Islam didisain untuk dapat membantu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan untuk bekerja lebih produktif sehingga dapat meningkatan kerja lulusan pendidikan di masa datang. Selain itu perlu disain pendidikan Islam yang tidak hanya bersifat linier saja, tetapi harus bersifat lateral dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat. (4) Pendidikan Islam harus mengembangkan kualitas pendidikannya agar memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang selalu berubah-berubah. Lembaga-lembaga pendidikan Islami harus dapat menyiapkan sumber insani yang lebih handal dan memiliki kompotensi untuk hidup bersama dalam ikatan masyarakat modern.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdurrahman an-Nahlawi, Ushulut Tarbiyah Islamiyah wa Asalabih fi Baiti wa
Madrasati wal Mujtama', Dar al-Fikr al-Mu'asyr, Beirut-Libanon., Terj.
Shihabuddin, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, Gema
Insani Press, Jakarta, 1995.
Ahmad Syafi'i Ma'arif, Pemikiran tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Dalam
Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, Editor : Muslih Usa, Tiara Wacana,
Yogyakarta, 1991.
-------- Pengembangan Pendidikan Tinggi Post Graduate Studi Islam Melalui
Paradigma Baru yang Lebih Efektif, Makalah Seminar, 1997.
A.Malik Fadjar, Menyiasati Kebutuhan Masyarakat Modern Terhadap Pendidikan
Agama Luar Sekolah, Seminar dan Lokakarya Pengembangan
Pendidikan Islam Menyongsong Abad 21, IAIN, Cirebon, tanggal, 31
Agustus s/d 1 September 1995.
Anwar Jasin, Keranka Dasar Pembaharuan Pendidikan Islam : Tinjauan
Filosofis, 1985.
Azyumardi Azra, dalam Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama
Islam, Amissco, Jakarta, 1996.
Comference Book, London, 1978.
Djamaluddin Ancok, Membangun Kompotensi Manusia dalam Milenium Ke Tiga,
Psikologika, Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, Nomor : 6 Tahun
III, UII, 1998.
Djohar, Omong Kosong, Tanpa Mengubah UU No. 2/89, Koran Harian "Kedaulatan Rakyat",
Tangga, 4 Mei 199.
Erich Fromm, The Revolution of Hope : Toward a Humanized Technology, New
York : Harper & Raw, 1968, p. 5.,dalam Syafi'i Ma'arif, Pengembangan
Pendidikan Tinggi Post Graduate Studi Islam Melalui Paradigma Baru
Yang Lebih Efektif, 1997.
Fazlur Rahman, Islam and Modernity, Transformation of an Intellectual Tradition,
The University of Chicago, Chicagi, 1982., terj. Ahsin Mohammad,
Pustaka, 1985.
H.A.R. Tilar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif
Abad 21, Tera Indonesia, Magelang, Cet. I, 1998.
S.R. Parker, et.al, Sosiologi Industri, Rineka Cipta, Jakarta, 1990.
Soroyo, Antisipasi Pendidikan Islam dan Perubahan Sosial Menjangkau Tahun
2000, dalam Buku : Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta,
Editor : Muslih Usa, Tiara Wacana, Yogya, 1991.
Syed Sajjad Husaian dan Syed Ali Ashraf, Crisis Muslim Educatio"., Terj.
Rahmani Astuti, Krisis Pendidikan Islam, Risalah, Bandung, 1986.
Roehan Achwan, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam Versi Mursi, Jurnal Pendidikan
Islam, Volume 1, IAIN Sunan Kalija, Yogyakarta, 1991.
M.Dimyati Machmud, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta, BPFE, 1990.
M.Irsyad Sudiro, Pendidikan Agama dalam Masyarakat Modern, Seminar dan
Lokakarya Nasional Revitalisasi Pendidikan Agama Luar Sekolah dalam
Masyarakat Modern, Cirebon, tanggal, 30-31 Agusrus 1995.
M.Rusli Karim, Pendidikan Islam Sebagai Upaya Pembebasan Manusia, dalam
Buku : Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, editor, Muslih
Usa, Tiara Wacana, Yogyakarta, Cet.1, 1991.
Paulo Freire,dkk., Menggugat Pendidikan Fundamental Konservatif Liberal
Anarkis, Terj., Omi Intan Naomi, Pustaka Pelajar, 1999.

Thursday, October 21, 2010

Nilai-Nilai Pendidikan Islam Di Era Khulafaur Rosyidin (Abu Bakar as- Siddiq)


Nilai-Nilai Pendidikan Islam Di Era Khulafaur Rosyidin
(Abu Bakar as- Siddiq)


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Dalam rentang waktu penyebaran agama  Islam pada masa Rasul sampai masa Khulafa’ Ar-Rasyidun menyisakan banyak sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Perjuangan Rasul menyi’arkan agama Islam dengan cara diam-diam serta terang-terangan pada masyarakat Arab yang mengakibatkan banyaknya cemoohan pada diri beliau, kemudian Hijrahnya kaum muslimin dari Makkah ke Madinah, sampai wafatnya Rasul yang kemudian dilanjutkan oleh para sahabat empat yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, serta Ali terlihat banyak hal yang dapat kita ambil nilai-nilai positif darinya.
Diantaranya adalah nilai potif dari aspek pendidikan Islam yang diajarkan oleh beliau. Begitu luasnya nilai-nilai itu, sehingga membutuhkan penafsiran kita dari sejarah yang ada untuk menggali nilai-nilai pendidikan itu.
Oleh karena itu, dalam makalah ini sedikit banyak akan menggali nilai-nilai pendidikan Islam pada masa Khulafa’ Ar-Rasyidun, khususnya pada masa Abu Bakar.
B.     Rumusan Masalah
1.      Siapa Abu Bakar ash-Siddiq itu?
2.      Apa peran dan fungsi Abu Bakar ash-Siddiq?
3.      Problem apa yang di hadapi Abu Bakar ash-Siddiq?
4.      Apa saja faktor-faktor keberhasilan di masa Abu Bakar ash-Siddiq?
5.      Apa rekonstruksi di dalam pendidikan kekinian?

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Biografi Abu Bakar Ash-Siddiq
                  Abu Bakar Ash-Siddiq (nama lengkapnya Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin Ustman bin Amr bin Masud Taim bin Murrah bin ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taiman Al-Quraisy ). Dilahirkan pada tahun 573 M. Ayahnya bernama Ustman (Abu Kuhafah) bin Amir bin Ka’ab bin Saad bin Laym bin Mun’ah bin Ka’ab bin Lu’ay, yang mana berasal dari suku Quraisy.  Sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salamah binti Sahr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah. Garis keturunannya ketemu pada neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad.[1] Dimasa jahiliyyah barnama Abdul Ka’ab, lalu ditukar oleh nabi menjadi Abdullah Kuniyyahnya Abu Bakar. Beliau diberi kuniyah Abu Bakar (pemagi) kerena dipagi-pagi betul beliau telah masuk Islam. Gelarnya Ash-Siddiq (yang membenarkan). Beliau di beri gelar ash-siddiq karena amat segera membenarkan rasul dalam berbagai macam peristiwa, terutama peristiwa Isra’ Mi’raj.[2]
                  Abu Bakar merupakan orang yang peretama masuk Islam ketika Islam mulai didakwahkan. Baginya, tidakalah sulit untuk mempercayai ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Dikarenakan sejak kecil, ia telah mengenal keagungan nabi Muhammad SAW. Setelah masuk Islam, ia tidak segan untuk menumbuhkan segenap jiwa dan harta bendanya untuk Islam. Tercatat dalam sejarah, dia pernah membela nabi tatkala nabi disakiti oleh suku Quraisy, menemani Rasul hijrah, membantu kaum yang lemah dan memerdekakannya , seperti Bilal, setia dalam setiap peperanngan, dan lain-lain.[3]
Abu Bakar ash-Siddiq wafat pada hari senin tanggal 23 agustus 642 M. yang mana jenazah beliau di makamnkan dirumah Aisyah disamping makam  nabi. Usia beliau 63 tahun ketika wafat, kekholifahannya berlangsung selama 2 tahun 3 bulan dan 11 hari. [4]

B.     Peran Dan Fungsi Abu Bakar Sebagai Khalifah
Sepak terjang pola pemerintahan Abu Bakar dapat dipahami dari pidato Abu Bakar ketika dia diangkat menjadi Khalifah. Isi pidatonya sebagai berikut:
         “Wahai manusia, sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu percayakan, padahal aku bukan orang yang terbaik diantara kamu. Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskan aku. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan kedustaan adalah suatu penghianatan. Orang yang lemah diantara kamu adalah orang yang kuat bagiku sampai aku memenuhi hak-haknya, dan orang kuat diantara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil haknya, Insya Allah. Jagnganlah salah seorang dari kamu meninggalkan jihad. Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan jihad maka Allah akan menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak mentaati Allah dan Rasulnya, sekali-kali janganlah kamu mentaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kamu.”[5]
Pidatonya diatas, menunjukkan garis besar politik kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan. Didalamya terdapat prinsip kebebasan berpendapat, tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, dan mendorong masyarakat berjihad, serta shalat sebagai intisari takwa.
                 
C.     Problem Yang di Hadapi Abu Bakar Ash-Siddiq
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Islam mulai tersiar sesudah kesepakatan al-Hudaibiyah. Jadi enam tahun setelah peristiwa hijrahnya Nabi, yakni setelah Hawazin dan Tsaqif dapat dikalahkan, mulailah delegasi berdatangan mengahadap Rasulullah untuk menyatakan keIslaman mereka. Peristiwa ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriyah.
Fakta diatas dapat memberikan kesimpulan bahwa pada saat nabi wafat, agama Islam belum masuk mendalam pada penduduk Arab. Diantara mereka ada yang menyatakan masuk Islam tetapi belum mempelajari ajaran Islam. Ada pula yang hanya untuk menghindari peperangan dengan kaum muslimin, ada pula karena ingin mendaptkan barang rampasan atau kedudukan. Sehingga setelah nabi wafat bagi orang-orang yang demikian dan yang lemah imannya,menjadi kesempatan untuk menyatakan terus terang apa yang tersembunyi dalam hati mereka, lalu murtadlah mereka.
Demikian juga pada sisi sukuisme orang Arab yang bergitu kental. Islam datang dicanagkan supaya orang hidup dalam satu keluarga besar , yakni keluarga Islam. Banyak orang Arab malihat bahwa agama Islam telah menjadikan suku Quraisy diatas suku-suku yang lain. Hal tersebut terindikasi dari bahwa suku Quraisy tetap mempertahankan kekuasaan itu, bertambah kuatlah gerakan untuk melepaskan diri dari Islam dan tampillah diantara suku-suku bangsa Arab orang yang mengaku dirinya Nabi. Diantara orang-orang yang mengaku dirinya Nabi ialah: Musailimatul Kazzab dari Bani Hanifah, Al-Aswad al-Ansi’, Thulaihah ibnu Khuwailid dari Bani Asad.
Ada pula golongan yang salah menafsirkan sejumlah ayat Al-Quran atau salah memahaminya. Diantaranya salah memahami QS. At-Taubah 103 :
õè{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.tè?ur $pkÍ5 ......... ÇÊÉÌÈ
Ambillah sedekah daripada harta mereka, buat pembersihkannyapenghapuskan kesalahannya.” (At-Taubah 103)
QS al-Mi’raj 24-25:
šúïÉ©9$#ur þÎû öNÏlÎ;ºuqøBr& A,ym ×Pqè=÷è¨B ÇËÍÈ È@ͬ!$¡¡=Ïj9 ÏQrãósyJø9$#ur ÇËÎÈ
Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). (QS. Al-Mi’raj 24-25)
Meraka mengira bahwa hanya Nabi Muhammad sajalah yang berhak memungut zakat, karena beliaulah yang disuruh mengambil zakat pada ayat tersebut.
Maka pada situsai yang demikian Abu Bakar dan sahabat bermusyawarah dengan para sahabat dan kaum muslimin untuk menentukan tindakan apa yang harus diambil untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini.
Diantara kaum muslimin ada yang berpendapat bahwa tidak akan memerangi bangsa arab seluruhnya, dan ada pula yang berpendapat bahwa tidak ada suatu alasan untuk memerangi orang yang tidak mau membayar zakat selama mereka masih tetap dalam keimanannya (masih percaya kepada Allah, Rasul dan lain-lain).
Dalam keadaan yang sulit inilah dituntut kebesaran jiwa dan ketabahan hati Abu Bakar serta ketegasannya sebagai pemimpin. Dengan tegas dinyatakannya bahwa beliau akan memerangi semua golongan yang menyeleweng dari kebenaran, biar yang murtad, yang mengaku menjadi nabi ataupun yang tidak mau membayar zakat, sampai semuanya kembali pada kebenaran atau beliau gugur sebagai syahid dalam memperjuangkan agama Allah.[6] Yang pada akhirnya Abu Bakar menyerukan kepada kaum muslim untuk kembali kepada Ajaran Islam yang benar, bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan kesesatannya diperangi.
Setelah semuanya selesai, tanah Arab pun bersatu kembali dan bertambah kuatlah berpegangan kepada ajaran Allah.
Pada saat bergolaknya masyarakat arab, harapan bangsa Persia dan Romawi untuk menghancurkan agama Islam hidup kembali. Bangsa Romawi dan Persia menyokong pergolakan ini, serta melindungi orang-orang yang mengadakan pemberontakan itu.[7] Oleh karena itu, setelah tanah arab kembali – bersiplah kaum muslimin berangkat keutara guna menghadapi dua musuh besar yang sedang menunggu waktu yang baik untuk menghancurkan Islam.

D.    Faktor-Faktor Keberhasilan Abu Bakar Ash-Siddiq
Fakta histories menunjukkan bahwa pemerintahan Abu Bakar banyak menuai keberhasilan, baik keberhasilan internal maupun eksternal. pada sisi internal ia telah berhasil meyelesaikan konflik antar umat Islam. Pada sisi lain ia berhasil memperluas wilayah Islam sebagai wujud penyebarluasan ajaran Islam.[8]
keberhasilan diantaranya dilatarbelakangi oleh faktor pembangunan pranata dibidang politik dan pertahanan keamanan. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari sikap keterbukaannya, yaitu memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada tokoh-tokoh sahabat untuk ikut berbicarakan berbagai masalah sebelum ia mengambil keputusan melalui forum musyawarah sebagai lembaga legislative. Hal ini mendorong para tokok sahabat, khususnya dan umat Islam umumnya, berpartisipasi aktif  untuk melaksanakan berbagai keputusan yang dibuat.[9] 
             
E.     Rekonstruksi Pendidikan di Masa Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar ash-Siddiq)  dengan Pendidikan Kekinian
Dari sekian pemaparan yang ada diatas, setidaknya ada dua prinsip nilai-nilai pendidikan islam; 1. kebebasan berpendapat yang terwujud dalam musyawarah, 2. Tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, serta shalat sebagai intisari takwa yang terwujud dalam pribadi beliau dengan sikap disiplin dan tegas.
Dengan melihat kondisi pendidikan kita hari ini, khususnya pendidikan islam di Indonesia yang semakin lama semakin jauh dari nilai-nilai keislaman, kiranya perlu untuk mengambil dan menjalankan nilai-nilai yang ada pada masa Abu Bakar.
Pada konterks tertentu tidak lagi terjadi kesewenang-wenangan dari pemerintah atau pelaksana pendidikan kepada masyarakat kecil, sehingga terwujudnya pranata pendidikan yang dapat dinikmati oleh semua pihak. Sehingga orientasi pendidikan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia berupa keuntungan materi semata (komersialisasi pendidikan). Akan tetapi perlu diiringi dengan nilai spiritual yang pada masa Abu Bakar adanya tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, serta shalat sebagai intisari takwa.
Sistem pembelajaran yang ada di lembaga-lembaga pendidikan masih jauh dari harapan nilai-nilai keislaman, pada konteks kedisiplinan, uswatun hasanah dari pendidik, serta ketidak istiqomahan pola pendidikan kita.
Jadi bukanlah hanya menyampaikan materi pelajaran pada keonteks formal saja (dalam kelas), tanpa ikuti degan sikap berupa tindakan keseharian pendidik kepada anak didik dalam kondisi apapun.














BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada masa Abu Bakar menunjukkan garis besar politik kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan. Didalamya terdapat prinsip kebebasan berpendapat, tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, dan mendorong masyarakat berjihad, serta shalat sebagai intisari takwa.
Fakta histories menunjukkan bahwa pemerintahan Abu Bakar banyak menuai keberhasilan, baik keberhasilan internal maupun eksternal. pada sisi internal ia telah berhasil meyelesaikan konflik antar umat Islam. Pada sisi lain ia berhasil memperluas wilayah Islam sebagai wujud penyebarluasan ajaran Islam.
keberhasilan diantaranya dilatarbelakangi oleh faktor pembangunan pranata dibidang politik dan pertahanan keamanan. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari sikap keterbukaannya, yaitu memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada tokoh-tokoh sahabat untuk ikut berbicarakan berbagai masalah sebelum ia mengambil keputusan melalui forum musyawarah sebagai lembaga legislative. Hal ini mendorong para tokok sahabat, khususnya dan umat Islam umumnya, berpartisipasi aktif  untuk melaksanakan berbagai keputusan yang dibuat.
Ada dua prinsip nilai-nilai pendidikan islam; 1. kebebasan berpendapat yang terwujud dalam musyawarah, 2. Tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, serta shalat sebagai intisari takwa yang terwujud dalam pribadi beliau dengan sikap disiplin dan tega
DAFTAR PUSTAKA

   M. Rida . Abu Bakar Ash-Siddiq Awalu Al-khulafa ar-rasyidin. Beiru: Dar Al-fikr, 1983      
Prof. Dr. A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam 1, PT. Pustaka Al-Husna Baru. Jakarta. 2003
Dewan Ensiklopedi Islam. Enseklopedi Islam. Jilid  1. Jakarta: Ikhtiar baru Van Hoeve ,1993
Syed Mahmudunnasir,  Islam Konsepsi  dan Sejarahnya, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2005
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008



[1] . M. Rida . Abu Bakar Ash-Siddiq Awalu Al-khulafa ar-rsyidin. Beiru: Dar Al-fikr, 1983, Hal: 7-8    
[2] Prof. Dr. A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam 1, PT. Pustaka Al-Husna Baru. Jakarta. 2003, Hal: 195
[3] . Dewan Ensiklopedi Islam. Enseklopedi Isla. Jilid  1. Jakarta: Ikhtiar baru Van Hoeve , 1993, Hal: 38                                                                                                                                       
[4] .  Syed Mahmudunnasir,  Islam Konsepsi  dan Sejarahnya, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2005, Hal: 145
[5] Lih Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008, Hal: 70.
[6] Prof. Dr. A. Syalabi………. Hal: 200.

[7] Prof. Dr. A. Syalabi…….Hal: 202.
       
[8] Philip K Hitti, Histori Of Arab, Serambi: Jakarta 2002, hal. 222.
[9] . Dedi Supriyadi….. Hal: 72

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI PEMBERIAN BIMBINGAN

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
MELALUI PEMBERIAN BIMBINGAN

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
            Pendidikan  berproses sekurang-kurangnya dalam tiga bidang yaitu, kurikulum dan pembelajaran, manajemen pendidikan, dan bimbingan konseling. Ketiganya mengarah pada satu tujuan, yaitu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik.
Guru BK (konselor) adalah pendidik yang memfasilitasi perkembangan seluruh potensi siswa dari berbagai aspek, mulai dari aspek pribadi, psikologi, maupun dari aspek sosial. Guru BK memberikan bimbingan dalam menyiapkan siswa menentukan pilihannya secara mandiri.
            Seluruh siswa memerlukan BK (bimbingan- konseling) mulai jenjang paling rendah sampai jenjang paling tinggi, dan mulai dari kemampuan paling tinggi apalagi yang rendah. Karena BK tidak hanya berurusan dengan kemampuan akademik saja melainkan mencakup semua aspek yang dimiliki oleh siswa, sehigga minat dan motivasi belajar siswa bangkit dan potensi serta kepribadiannya berkembang secara optimal.
            Dalam makalah ini akan membahas bagaimana seorang pendidik atau konselor mengatasi siswa / siswi yang kurang motivasi belajarnya.

Rumusan Masalah
Ø      Apa bimbingan itu?
Ø      Apa pengertian motivasi?
Ø      Apa definisi bimbingan belajar?
Ø      Apa saja sebab-sebab kurangnya motivasi belajar siswa itu?
Ø      Bagaimana pendidik / konselor mengatasi siswa yang kurang motivasi belajarnya?


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Uraian Tentang Bimbingan
Stone dan Sherter merumuskan bimbingan sebagai process of helping individuals to understand themselves and their world.
Sedangkan dalam kurikulum 1975 mengartikan bimbingan adalah suatu proses bantuan khusus yang diberikan kepada siswa dengan memperhatikan kemungkinan- kemungkinan dan kenyataan- kenyataan adanya kesulitan yang dihadapinya dalam rangka perkembangannya yang optimal, sehingga mereka dapat memahami diri, mengarahkan diri, dan bertindak serta bersikap dengan tuntutan dan keadaan sekolah , keluarga dan masyarakat.[1]
Berdasarkan pasal 27 peraturan pemrintah nomor 29/90, “bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencankan masa depan”(Depdikbud, 1994).[2]

B.     Pengertian Motivasi
Motivasi dapat didefinisikan dengan segala sesuatu yang mana menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhannya.  Menurut M. Utsman Najati, Motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktifitas pada makhluk hidup, dan menimbulkan tingkah laku serta mengarahkan menuju tujuan tertentu. [3]
Motivasi memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar, mempengaruhi intensitas kegiatan belajar, tetapi motivasi dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dengan belajar. Makin tinggi tujuan belajar maka akan semakin besar pula motivasinya, dan semakin besar motivasi belajarnya akan semakin kuat pula kegiatan belajarnya. Ketiga komponen kegiatan atau perilaku belajar tersebut, saling berkaitan erat dan membentuk suatu kesatuan yang disebut sebagai proses motivasi belajar. Proses motivasi belajar ini meliputi tiga langkah yaitu;
1)      Adanya suatu kondisi yang terbentuk dari tenaga-tenaga pendorong belajar (desakan, motif, kebutuhan, dan keinginan belajar ) yang menimbulkan suatu ketegangan atau tenson.
2)      Berlangsungnya kegiatan atau perilaku belajar yang diarahkan pada pencapaian tujuan belajar akan mengendurkan atau menghilangkan ketegangan.
3)      Pencapaian tujuan belajar dan berkurangnya atau hilangnnya ketegangan.[4]
Sumber motivasi dapat datang dari dirinya, kesadaran dan pemikiran dirinya, dapat juga dari luar, dari orang tua, guru-guru, sekolah, teman-teman, bahkan dari masyarakat dan media massa. Orang tua dan sekolah hendaknya menciptakan lingkungan dan menjalin hubungan dengan peserta didik agar tercipta motivasi positif terhadap belajar. Sebaliknya menjauhkan dengan hal-hal yang kemungkinan menimbulkan motivasi negatif terhadap kegiatan belajar siswa.
Motivasi belajar adakalanya  muncul dan sejalan dengan tujuan belajar, seperti menguasai ilmu pengetahuan, memiliki kecakapan atau kompetensi, motivasi yang seperti ini termasuk pada motivasi intrinsik, sedangkan motivasi ekstrinsik yaitu motivasi belajar yang didorong hal lain diluar  belajar, akan tetapi masih ada hubungannya dengan belajar atau hasil belajar, seperti ingin mendapatkan ijazah, ingin diterima di sekolah favorit, ingin di sayang orang tua dsb.[5]
Didalam program bimbingan dan konseling baik motivasi positif maupun motivasi negatif sama pentingnya. Motivasi positif dalam rangka pengembangan dan penyaluran bakat, minat serta dalam pemberian treatment kepada siswa. Motivasi negatif juga penting sebab peserta didik memperlihatkan tingkah laku belajar yang tidak produktif karena adanya motivasi negatif tertentu. Dengan demikian motivasi negatif dibutuhkan dalam memahami latar belakang suatu masalah, sedangkan motivasi positif diperlukan dalam pemecahan masalah.
Dibawah ini adalah bentuk-bentuk perilaku kurang motivasi belajar antara lain:
a.       Kelesuan dan ketidakberdayaan, seperti;  malas, enggan, lambat bekerja, mengulur waktu, pekerjan tidak selesai, kurang konsentrasi, acuh tak acuh, apatis, sikap jasmani yang kurang baik, perasaan pusing-pusing, mual, mengantuk dan sebagainya.
b.      Penghindaran atau pelarian diri, seperti; absen sekolah, bolos, tidak mengikuti pelajaran tertentu, tidak mengerjakan tugas, tidak mencatat, pelupa dan sebagainya.
c.       Penentang, seperti; kenakalan, suka mengganggu, merusak, tidak menyukai sesuatu pelajaran atau kegiatan, mengkritik, berdalih, dan sebagainya.
d.      Kompensasi, seperti; mencari kesibukan lain diluar pekerjaan, mengerjakan tugas lain pada waktu belajar, mendahulukan pekerjaan yang tidak penting dan sebagainya.[6]

C.     Definisi Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar atau akademik ialah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran- kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan- tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan.[7]
Belajar merupakan semua aktifitas yang dilakukan peserta didik untuk menguasai pengetahuan dan kemampuan atau kompetensi, yang mana dapat berlangsung disekolah ataupun diluar sekolah, pembelajaran merupakan kegiatan belajar yang dilaksanakan di sekolah bersama guru atau dengan bimbingan guru. Keberhasilan belajar dan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh motivasi, sebab motivasi belajar dapat diumpamakan mesin atau motor yang menggerakkan perahu belajar. Para peserta didik yang belajar secara teratur, rajin, sungguh- sungguh, tekun dsb karena mereka memiliki motivasi belajar yang kuat.[8]

D.    Sebab- Sebab Kurang Motivasi Belajar
Tugas guru dalam mengajar dikelas tidak hanya menyajikan bahan pelajaran, tetapi juga menciptakan situasi kelas, interaksi, kerjasama, memberikan arahan, petunjuk, penjelasan, serta dorongan, rangsangan, motivasi agar peserta didik belajar secara optimal.
Proses penguasaan pengetahuan, nilai- nilai, keterampilan dan pengembangan kemampuan berfikir membutuhkan suasana lingkungan yang kondusif, terutama suasana lingkungan sosial dalam kelas. Kondisi emosional para peserta didik akan berpengaruh besar terhadap perkembangan kemampuan berfikir, keterampilan, bahkan keseluruhan pribadi siswa. Suasana kelas yang kondusif, hubungan antar teman yang akrab, perlakuan guru yang bersahabat dapat membangkitkan kegairahan dan motivasi belajar. Dalam penciptaan kondisi kelas tersebut peranan guru sangat penting, karena di dalam kelas guru adalah pengelolah, pemimpin, dan panutan siswa, selain itu dia juga sebagai sumber belajar, sumber insprirasi dan motivasi. Dengan demikian suasana kelas dan perlakuan guru dapat menjadi penyebab pertama besar atau kecilnya motivasi belajar siswa.
Penyebab kedua yaitu datang dari lingkungan keluarga, yang mana lingkungan keluarga ini sangat amat berpengaruh pada kurangnya motivasi belajar siswa. Orang tua dalam keluarga juga berperan menciptakan suasana belajar yang kondusif dirumah, menyediakan sarana dan fasilitas belajar yang dibutuhkan oleh siswa.
Situasi hubungan sosial, suasana emosional dan disiplin yang demikian akan menumbuhkan suasana yang hebat, membangkitkan motivasi dan memperlancar perkembangan belajar para siswa. Sebaliknya hubungan sosial yang banyak mengandung sikap curiga, permusuhan, ketidakpercayaan, suasana emosi yang tawar atau cenderung ke arah kebencian, penerapan disiplin yang bersifat otoriter, dsb cenderung akan menurunkan motivasi, dan menghilangkan gairah belajar.
Disamping faktor lain yang bersumber dari sekolah dan keluarga, motivasi belajar dapat datang dari diri peserta didik sendiri. Kondisi kesehatan yang prima, baik kesehatan jasmani maupun rohani menjadi dasar yang kuat bagi tumbuhnya motivasi belajar.  Kondisi kesehatan akan berkembang persepsi, sikap yang sehat dan realistik, emosi yang stabil. Keceriaan, kesenangan, kebahagiaan dsb. Sedangkan kondisi yang kurang sehat maka akan menumbuhkan kondisi sosial yang kurang sehat pula, dan dapat menjadi pangkal dari rendahnya motivasi untuk maju, motivasi untuk berprestasi. Tumbuhnya kondisi pribadi yang sehat juga dilatar belakangi oleh dasar- dasar yang dikembangkan olah keluarga. Keluarga terutama ayah dan ibu memegang paranan kunci dalam pembentukan pribadi anak, dan memberi dasar- dasar bagi kemajuan belajarnya.[9] 


E.     Solusi Mengatasi Kurang Motivasi Belajar Siswa
Kurang atau rendahnya belajar seorang  peserta didik bukan suatu hal yang tanpa sebab, akan tetapi ada sebabnnya. Yang mana telah dikemukakan di depan bahwa sebab- sebab rendahnya atau kurangnya motivasi belajar siswa itu berasal dari guru, sekolah, dan teman- temannya, dari pihak keluarga terutama ayah dan ibu atau saudara- saudaranya, dan juga berpangkal dari diri sendiri, kesehatan pribadi dan reaksi- reaksi terhadap lingkungannya. Untuk membantu peserta didik yang kurang motivasi belajar, perlu kita ketahui terlebih dahulu hal- hal yang melatar belakanginya. Seperti halnya pada masalah bimbingan dan konselig pada umumnya, pada masalah rendahnya motivasi belajar yang dicoba diperbaiki atau dihilangkan bukan motivasinya tetapi hal- hal yang melatar belakanginya.
Disamping pemberian layanan- layanan secara khusus terhadap peserta didik yang kurang memiliki motivasi belajar, dengan latar belakang masing- masing yang secara khusus pula, konselor atau guru pembimbing dapat melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan motivasi belajar para siswa. Pembangkitan motivasi ini dapat dilakukan secara langsung oleh konselor atau guru pembimbing sendiri, dapat  juga dilakukan melalui guru kelas, guru bidang studi atau guru- guru pembina kegiatan ekstra kurikuler.
Dibawah ini beberapa upaya untuk mengatasi kurangnya motivasi belajar siswa yang dilakukan oleh konselor antara lain:
1. Konselor dapat memberikan informasi, penjelasan disertai dengan contoh- contoh tentang pentingnya belajar, kemajuan- kemajuan yang dapat dicapai dalam belajar, orang- orang sukses karena rajin dan giat belajar.
2. Terhadap kelas, kelompok atau individu peserta didik yang berprestasi diberi pujian, ganjaran ataupun hadiah. Untuk membangkitkan motivasi belajar secara sederhana konselor dapat melakukan melalui pemberian pujian. Pujian akan membangkitkan semanagat.
3. Penghargaan terhadap pribadi anak, semua orang termasuk anak- anak dan remaja ingin diterima dan dihargai. Upaya untuk membangkitkan motivasi belajar perlu dilandasi oleh sikap dan penerimaan yang wajar dan konselor terhadap keberadaan dan pribadi siswa.[10]
  Dibawah ini beberapa upaya untuk mengatasi kurangnya motivasi belajar siswa yang dilakukan oleh guru antara lain:
1)            Menjelaskan manfaat dan tujuan dari pembelajaran yang diberikan. Tujuan yang jelas dan manfaat yang betul- betul dirasakan oeh peserta didik kan membangkitkan motivasi belajar siswa. 
2)            Memilih materi yang atau bahan pembelajaran yang benar- benar dibutuhkan oleh peserta didik, yang mana yang dibutuhkan akan menarik minat siswa, dan minat merupakan salah satu bentuk dari motivasi.
3)            Memilih cara penyajian yang bervariasi yang mana sesuai dengan kemapuan peserta didik dan banyak memberi kesempatan kepada peserta didik untuk ikut andil atau berpartsipasi dalam kelas tersebut, yang mana peserta didik akan lebih merasa lebih semangat dari pada hanya sekedar mendengar saja (monoton).
4)            Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk sukses. Sukses yang telah dicapai oleh peserta didik akan membuahkan sebuah motivasi belajar yang sangat besar
5)            Berilah kemudahan dan bantuan dalam belajar. Tugas seorang guru atau pendidik disekolah tidak lain untuk membantu perkembangan siswa. Agar perkembangan peserta didik lancar, berilah kemudahan- kemudahan dalam belajar, dan janganlah guru mempersulit perkembangan belajar peserta didik  karena akan berakibat fatal kepada peserta didik.
6)            Berikanlah sebuah pujian, ganjaran atau sebuah hadiah, karena itu sangat membuat peserta didik termotivasi, sama dengan konselor, guru- guru juga dapat membangkitkan motivasi belajar melalui pemberian pujian, ganjaran, atau kalau perlu hadiah.[11]


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Dari pemaran diatas dapat disimpulkan bahwa kesulitan atau kurangnya motivasi belajar siswa itu meliputi beberapa hal natara lain;
Þ    Tidak ada kesiapan fisik dan mental untuk menerima pelajaran karena terlalu lelah dab tidak ada kesempatan belajar dirumah, tidak 
Þ    Tidak konsentrasi dalam belajar karena merasa takut, dibenci dan merasa selalu di hokum oleh guru
Þ    Tidak ada dorongan untuk mencapai suatu cita- cita yang tinggi dari orang tua karena latar belakang pendidikan dan kognisi sosi- ekonomi yang kurang atau lemah
Þ    Kurang motivasi belajar karena kurangnya rangsangan dari ligkungan untuk giat belajar
Sebab- sebab dari kurangnya motivasi belajar itu meliputi dari lingkungan yang kurang kondusif, dukungan dari keluarga, kesehatan peserta didik (mental)
Upaya untuk dapat mengatasi kurang motivasi belajar siswa yang dilakukan oleh pendidik atau konselor antara lain:
Þ    Konselor dapat memberikan informasi
Þ    Menjelaskan manfaat dan tujuan dari pembelajaran yang diberikan
Þ    Berikanlah sebuah pujian, ganjaran atau sebuah hadiah
Þ    Berilah kemudahan dan bantuan dalam belajar
Þ    Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk sukses
DAFTAR PUSTAKA
Muhbib Abdul Wahab, Abdul Rahman Shaleh, psikologi suatu pengantar dalam perspektif Islam. Prenada Media, Jakarta, 2004.
Sukmadinata, Nana Syaodih, Bimbingan dan Konseling Dalam Praktek Mengembangkan Potensi dan Kepribadian siswa, Maestro. Bandung, 2007.
            Sukardi, Dewa Ketut, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling Disekolah,  PT. Rieneka Cipta, Jakarta, 2002.
Gunawan, Yusuf, , pengantar bimbingan dan konseling, PT. Prenhanlindo, Jakarta, 2001


[1]. Yusuf, Gunawan, pengantar bimbungan dan konseling, PT. Prenhanlindo, Jakarta, 2001. Hal: 40
[2].  Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan KOnseling Disekolah,  PT. Rieneka Cipta, Jakarta, 2002. Hal: 19
[3] . Abdul Rahman Shaleh, Muhbib abdul Wahab, psikologi suatu pengantar dalam perspektif Islam. Prenada Media, Jakarta, 2004. Hal: 132
[4] . Nana Syaodih Sukmadinata, Bimbingan dan Konseling Dalam Praktek Mengembangkan Potensi dan Kepribadian siswa, Maestro. Bandung, 2007. Hal: 382    
[5].  Nana Syaodih Sukmadinata………. Hal: 387
[6] . Nana Syaodih Sukmadinata………. Hal: 38
[7] . Dewa Ketut Sukardi, …………………Hal: 40  
[8].  Nana Syaodih Sukmadinata………. Hal: 381
[9] . Nana Syaodih Sukmadinata………. Hal: 391
[10] . Nana Syaodih Sukmadinata………. Hal: 408
[11] . Nana Syaodih Sukmadinata………. Hal: 409