Thursday, October 21, 2010

Nilai-Nilai Pendidikan Islam Di Era Khulafaur Rosyidin (Abu Bakar as- Siddiq)


Nilai-Nilai Pendidikan Islam Di Era Khulafaur Rosyidin
(Abu Bakar as- Siddiq)


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Dalam rentang waktu penyebaran agama  Islam pada masa Rasul sampai masa Khulafa’ Ar-Rasyidun menyisakan banyak sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Perjuangan Rasul menyi’arkan agama Islam dengan cara diam-diam serta terang-terangan pada masyarakat Arab yang mengakibatkan banyaknya cemoohan pada diri beliau, kemudian Hijrahnya kaum muslimin dari Makkah ke Madinah, sampai wafatnya Rasul yang kemudian dilanjutkan oleh para sahabat empat yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, serta Ali terlihat banyak hal yang dapat kita ambil nilai-nilai positif darinya.
Diantaranya adalah nilai potif dari aspek pendidikan Islam yang diajarkan oleh beliau. Begitu luasnya nilai-nilai itu, sehingga membutuhkan penafsiran kita dari sejarah yang ada untuk menggali nilai-nilai pendidikan itu.
Oleh karena itu, dalam makalah ini sedikit banyak akan menggali nilai-nilai pendidikan Islam pada masa Khulafa’ Ar-Rasyidun, khususnya pada masa Abu Bakar.
B.     Rumusan Masalah
1.      Siapa Abu Bakar ash-Siddiq itu?
2.      Apa peran dan fungsi Abu Bakar ash-Siddiq?
3.      Problem apa yang di hadapi Abu Bakar ash-Siddiq?
4.      Apa saja faktor-faktor keberhasilan di masa Abu Bakar ash-Siddiq?
5.      Apa rekonstruksi di dalam pendidikan kekinian?

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Biografi Abu Bakar Ash-Siddiq
                  Abu Bakar Ash-Siddiq (nama lengkapnya Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin Ustman bin Amr bin Masud Taim bin Murrah bin ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taiman Al-Quraisy ). Dilahirkan pada tahun 573 M. Ayahnya bernama Ustman (Abu Kuhafah) bin Amir bin Ka’ab bin Saad bin Laym bin Mun’ah bin Ka’ab bin Lu’ay, yang mana berasal dari suku Quraisy.  Sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salamah binti Sahr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah. Garis keturunannya ketemu pada neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad.[1] Dimasa jahiliyyah barnama Abdul Ka’ab, lalu ditukar oleh nabi menjadi Abdullah Kuniyyahnya Abu Bakar. Beliau diberi kuniyah Abu Bakar (pemagi) kerena dipagi-pagi betul beliau telah masuk Islam. Gelarnya Ash-Siddiq (yang membenarkan). Beliau di beri gelar ash-siddiq karena amat segera membenarkan rasul dalam berbagai macam peristiwa, terutama peristiwa Isra’ Mi’raj.[2]
                  Abu Bakar merupakan orang yang peretama masuk Islam ketika Islam mulai didakwahkan. Baginya, tidakalah sulit untuk mempercayai ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Dikarenakan sejak kecil, ia telah mengenal keagungan nabi Muhammad SAW. Setelah masuk Islam, ia tidak segan untuk menumbuhkan segenap jiwa dan harta bendanya untuk Islam. Tercatat dalam sejarah, dia pernah membela nabi tatkala nabi disakiti oleh suku Quraisy, menemani Rasul hijrah, membantu kaum yang lemah dan memerdekakannya , seperti Bilal, setia dalam setiap peperanngan, dan lain-lain.[3]
Abu Bakar ash-Siddiq wafat pada hari senin tanggal 23 agustus 642 M. yang mana jenazah beliau di makamnkan dirumah Aisyah disamping makam  nabi. Usia beliau 63 tahun ketika wafat, kekholifahannya berlangsung selama 2 tahun 3 bulan dan 11 hari. [4]

B.     Peran Dan Fungsi Abu Bakar Sebagai Khalifah
Sepak terjang pola pemerintahan Abu Bakar dapat dipahami dari pidato Abu Bakar ketika dia diangkat menjadi Khalifah. Isi pidatonya sebagai berikut:
         “Wahai manusia, sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu percayakan, padahal aku bukan orang yang terbaik diantara kamu. Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskan aku. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan kedustaan adalah suatu penghianatan. Orang yang lemah diantara kamu adalah orang yang kuat bagiku sampai aku memenuhi hak-haknya, dan orang kuat diantara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil haknya, Insya Allah. Jagnganlah salah seorang dari kamu meninggalkan jihad. Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan jihad maka Allah akan menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak mentaati Allah dan Rasulnya, sekali-kali janganlah kamu mentaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kamu.”[5]
Pidatonya diatas, menunjukkan garis besar politik kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan. Didalamya terdapat prinsip kebebasan berpendapat, tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, dan mendorong masyarakat berjihad, serta shalat sebagai intisari takwa.
                 
C.     Problem Yang di Hadapi Abu Bakar Ash-Siddiq
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Islam mulai tersiar sesudah kesepakatan al-Hudaibiyah. Jadi enam tahun setelah peristiwa hijrahnya Nabi, yakni setelah Hawazin dan Tsaqif dapat dikalahkan, mulailah delegasi berdatangan mengahadap Rasulullah untuk menyatakan keIslaman mereka. Peristiwa ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriyah.
Fakta diatas dapat memberikan kesimpulan bahwa pada saat nabi wafat, agama Islam belum masuk mendalam pada penduduk Arab. Diantara mereka ada yang menyatakan masuk Islam tetapi belum mempelajari ajaran Islam. Ada pula yang hanya untuk menghindari peperangan dengan kaum muslimin, ada pula karena ingin mendaptkan barang rampasan atau kedudukan. Sehingga setelah nabi wafat bagi orang-orang yang demikian dan yang lemah imannya,menjadi kesempatan untuk menyatakan terus terang apa yang tersembunyi dalam hati mereka, lalu murtadlah mereka.
Demikian juga pada sisi sukuisme orang Arab yang bergitu kental. Islam datang dicanagkan supaya orang hidup dalam satu keluarga besar , yakni keluarga Islam. Banyak orang Arab malihat bahwa agama Islam telah menjadikan suku Quraisy diatas suku-suku yang lain. Hal tersebut terindikasi dari bahwa suku Quraisy tetap mempertahankan kekuasaan itu, bertambah kuatlah gerakan untuk melepaskan diri dari Islam dan tampillah diantara suku-suku bangsa Arab orang yang mengaku dirinya Nabi. Diantara orang-orang yang mengaku dirinya Nabi ialah: Musailimatul Kazzab dari Bani Hanifah, Al-Aswad al-Ansi’, Thulaihah ibnu Khuwailid dari Bani Asad.
Ada pula golongan yang salah menafsirkan sejumlah ayat Al-Quran atau salah memahaminya. Diantaranya salah memahami QS. At-Taubah 103 :
õè{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.tè?ur $pkÍ5 ......... ÇÊÉÌÈ
Ambillah sedekah daripada harta mereka, buat pembersihkannyapenghapuskan kesalahannya.” (At-Taubah 103)
QS al-Mi’raj 24-25:
šúïÉ©9$#ur þÎû öNÏlÎ;ºuqøBr& A,ym ×Pqè=÷è¨B ÇËÍÈ È@ͬ!$¡¡=Ïj9 ÏQrãósyJø9$#ur ÇËÎÈ
Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). (QS. Al-Mi’raj 24-25)
Meraka mengira bahwa hanya Nabi Muhammad sajalah yang berhak memungut zakat, karena beliaulah yang disuruh mengambil zakat pada ayat tersebut.
Maka pada situsai yang demikian Abu Bakar dan sahabat bermusyawarah dengan para sahabat dan kaum muslimin untuk menentukan tindakan apa yang harus diambil untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini.
Diantara kaum muslimin ada yang berpendapat bahwa tidak akan memerangi bangsa arab seluruhnya, dan ada pula yang berpendapat bahwa tidak ada suatu alasan untuk memerangi orang yang tidak mau membayar zakat selama mereka masih tetap dalam keimanannya (masih percaya kepada Allah, Rasul dan lain-lain).
Dalam keadaan yang sulit inilah dituntut kebesaran jiwa dan ketabahan hati Abu Bakar serta ketegasannya sebagai pemimpin. Dengan tegas dinyatakannya bahwa beliau akan memerangi semua golongan yang menyeleweng dari kebenaran, biar yang murtad, yang mengaku menjadi nabi ataupun yang tidak mau membayar zakat, sampai semuanya kembali pada kebenaran atau beliau gugur sebagai syahid dalam memperjuangkan agama Allah.[6] Yang pada akhirnya Abu Bakar menyerukan kepada kaum muslim untuk kembali kepada Ajaran Islam yang benar, bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan kesesatannya diperangi.
Setelah semuanya selesai, tanah Arab pun bersatu kembali dan bertambah kuatlah berpegangan kepada ajaran Allah.
Pada saat bergolaknya masyarakat arab, harapan bangsa Persia dan Romawi untuk menghancurkan agama Islam hidup kembali. Bangsa Romawi dan Persia menyokong pergolakan ini, serta melindungi orang-orang yang mengadakan pemberontakan itu.[7] Oleh karena itu, setelah tanah arab kembali – bersiplah kaum muslimin berangkat keutara guna menghadapi dua musuh besar yang sedang menunggu waktu yang baik untuk menghancurkan Islam.

D.    Faktor-Faktor Keberhasilan Abu Bakar Ash-Siddiq
Fakta histories menunjukkan bahwa pemerintahan Abu Bakar banyak menuai keberhasilan, baik keberhasilan internal maupun eksternal. pada sisi internal ia telah berhasil meyelesaikan konflik antar umat Islam. Pada sisi lain ia berhasil memperluas wilayah Islam sebagai wujud penyebarluasan ajaran Islam.[8]
keberhasilan diantaranya dilatarbelakangi oleh faktor pembangunan pranata dibidang politik dan pertahanan keamanan. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari sikap keterbukaannya, yaitu memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada tokoh-tokoh sahabat untuk ikut berbicarakan berbagai masalah sebelum ia mengambil keputusan melalui forum musyawarah sebagai lembaga legislative. Hal ini mendorong para tokok sahabat, khususnya dan umat Islam umumnya, berpartisipasi aktif  untuk melaksanakan berbagai keputusan yang dibuat.[9] 
             
E.     Rekonstruksi Pendidikan di Masa Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar ash-Siddiq)  dengan Pendidikan Kekinian
Dari sekian pemaparan yang ada diatas, setidaknya ada dua prinsip nilai-nilai pendidikan islam; 1. kebebasan berpendapat yang terwujud dalam musyawarah, 2. Tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, serta shalat sebagai intisari takwa yang terwujud dalam pribadi beliau dengan sikap disiplin dan tegas.
Dengan melihat kondisi pendidikan kita hari ini, khususnya pendidikan islam di Indonesia yang semakin lama semakin jauh dari nilai-nilai keislaman, kiranya perlu untuk mengambil dan menjalankan nilai-nilai yang ada pada masa Abu Bakar.
Pada konterks tertentu tidak lagi terjadi kesewenang-wenangan dari pemerintah atau pelaksana pendidikan kepada masyarakat kecil, sehingga terwujudnya pranata pendidikan yang dapat dinikmati oleh semua pihak. Sehingga orientasi pendidikan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia berupa keuntungan materi semata (komersialisasi pendidikan). Akan tetapi perlu diiringi dengan nilai spiritual yang pada masa Abu Bakar adanya tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, serta shalat sebagai intisari takwa.
Sistem pembelajaran yang ada di lembaga-lembaga pendidikan masih jauh dari harapan nilai-nilai keislaman, pada konteks kedisiplinan, uswatun hasanah dari pendidik, serta ketidak istiqomahan pola pendidikan kita.
Jadi bukanlah hanya menyampaikan materi pelajaran pada keonteks formal saja (dalam kelas), tanpa ikuti degan sikap berupa tindakan keseharian pendidik kepada anak didik dalam kondisi apapun.














BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada masa Abu Bakar menunjukkan garis besar politik kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan. Didalamya terdapat prinsip kebebasan berpendapat, tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, dan mendorong masyarakat berjihad, serta shalat sebagai intisari takwa.
Fakta histories menunjukkan bahwa pemerintahan Abu Bakar banyak menuai keberhasilan, baik keberhasilan internal maupun eksternal. pada sisi internal ia telah berhasil meyelesaikan konflik antar umat Islam. Pada sisi lain ia berhasil memperluas wilayah Islam sebagai wujud penyebarluasan ajaran Islam.
keberhasilan diantaranya dilatarbelakangi oleh faktor pembangunan pranata dibidang politik dan pertahanan keamanan. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari sikap keterbukaannya, yaitu memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada tokoh-tokoh sahabat untuk ikut berbicarakan berbagai masalah sebelum ia mengambil keputusan melalui forum musyawarah sebagai lembaga legislative. Hal ini mendorong para tokok sahabat, khususnya dan umat Islam umumnya, berpartisipasi aktif  untuk melaksanakan berbagai keputusan yang dibuat.
Ada dua prinsip nilai-nilai pendidikan islam; 1. kebebasan berpendapat yang terwujud dalam musyawarah, 2. Tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, serta shalat sebagai intisari takwa yang terwujud dalam pribadi beliau dengan sikap disiplin dan tega
DAFTAR PUSTAKA

   M. Rida . Abu Bakar Ash-Siddiq Awalu Al-khulafa ar-rasyidin. Beiru: Dar Al-fikr, 1983      
Prof. Dr. A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam 1, PT. Pustaka Al-Husna Baru. Jakarta. 2003
Dewan Ensiklopedi Islam. Enseklopedi Islam. Jilid  1. Jakarta: Ikhtiar baru Van Hoeve ,1993
Syed Mahmudunnasir,  Islam Konsepsi  dan Sejarahnya, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2005
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008



[1] . M. Rida . Abu Bakar Ash-Siddiq Awalu Al-khulafa ar-rsyidin. Beiru: Dar Al-fikr, 1983, Hal: 7-8    
[2] Prof. Dr. A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam 1, PT. Pustaka Al-Husna Baru. Jakarta. 2003, Hal: 195
[3] . Dewan Ensiklopedi Islam. Enseklopedi Isla. Jilid  1. Jakarta: Ikhtiar baru Van Hoeve , 1993, Hal: 38                                                                                                                                       
[4] .  Syed Mahmudunnasir,  Islam Konsepsi  dan Sejarahnya, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2005, Hal: 145
[5] Lih Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008, Hal: 70.
[6] Prof. Dr. A. Syalabi………. Hal: 200.

[7] Prof. Dr. A. Syalabi…….Hal: 202.
       
[8] Philip K Hitti, Histori Of Arab, Serambi: Jakarta 2002, hal. 222.
[9] . Dedi Supriyadi….. Hal: 72

No comments:

Post a Comment

Post a Comment